Tips Perawatan Battery Untuk Sepeda Listrik

Pengetahuan Umum Tentang Penyebab kerusakkan Battery pada Kendaraan Listrik – Sepeda Listrik dan Sepeda Motor Listrik :

Battery Selead Lead Acid ( SLA ) adalah komponen paling utama dalam kendaraan listrik. Selain paling utama dalam menyuplai energi, battery juga adalah komponen yang cukup mahal didalam kendaraan listrik. Banyak sekali kendaraan listrik yang mangkrak karena si pemilik kaget dengan harga Battery. Harga Battery 12V 12Ah per buah saat ini sekitar Rp 450.000, jika specifikasi Sepeda Listrik 36V 12Ah maka harganya 3 x Rp 450.000 = Rp 1.350.000, jika specifikasinya 48V 12Ah, harganya 4 x Rp 450.000 = Rp 1.800.000, memang terasa cukup mahal, tapi itu ibarat kita membeli bahan bakar minyak ( Bensin ) selama 3 – 4 tahun, wajar bukan ?

Kenapa Battery Sepeda Listrik atau Sepeda Motor Listrik mahal ? karena setara dengan membeli bahan bakar minyak selama 3 – 4 tahun dalam satu waktu. Maka dari itu marilah kita bijak dalam menggunakan Battery, jangan sampai Battery rusak kurang dari 3 tahun. Disinilah akan kita bahas apa saja penyebab Battery SLA rusak pada kendaraan listrik, khususnya bentuk sepeda listrik dan sepeda motor listrik, yang secara umum adalah sebagai berikut :

 

1. Kendaraan selalu digunakan untuk kebut gas full.

Ngebut bukan berarti kecepatan tinggi melaju di jalan raya, Istilah ngebut dalam kendaraan listrik lebih ke arah memutar gas secara full, atau memaksa kendaraan listrik melaju diluar batas meksimal kekuatannya. Hal ini sangat tidak bijak terhadap Battery, karena Battery akan mengeluarkan energy ampere ( A ) yang melebihi satuan kapasitas Amper Hour ( Ah ) nya. Maksudnya bagaimana ? Misal sepeda listrik 250W – 350W merek Selis, Sunrace, Richey, Super Rider, dsb itu menggunakan Battery kapasitas 12Ah, sementara dalam kondisi gas full maka ampere yang mengalir adalah 15 – 16A. Mudah dipahami, titik awal penyebab Battery golongan SLA ini adalah penggunaan ampere yang terlalu besar.

Sering digunakan untuk boncengan / dinaiki dua orang, maka konsumsi energy listrikpun juga membutuhkan untuk mengangkut 2 orang juga. Jika sebuah motor bensin BBM digunakan sendiri maupun boncengan borosnya tidak terasa. Namun di kendaraan listrik akan sangat terasa borosnya. Efisiensi energy ketika boncengan lebih rendah dari pada dinaiki sendiri. Kendaraan listrik dipakai boncengan akan membuat ampere bekerja lebih besar hingga maksimal batas kekuatan kendaraan listrik.

Sering melewati medan tanjakan sama halnya membuat kendaraan listrik kerja keras. Oleh karena itu wajar jika di daerah yang medannya banyak tanjakan jarang ditemui dealer / toko kendaraan listrik model 250W sampai 800W memang tidak diperuntukan melewati medan tanjakan. Lalau kalau dipaksa sering melewati tanjakan efeknya apa pada Battery ?. Jawabanya adalah kapasitas Battery cepat habis dan Battery cepat habis pula masa pakainya. Tidak efektif kan ? Jadi jika ada jalan lain memutar yang lebih landai, pilihlah jalan lain saja dari pada melintasi tanjakan.

 

2. Memakai hingga kapasitas Battery habis total.

Jika kita mendengar tips seperti ini : Melakukan charging Battery harus menunggu habis dulu, baru boleh dicharge. Percayalah kalau itu HOAX dan SESAT untuk Battery SLA kendaraan listrik. Metode charging yang harus menunggu kapasitas habis dahulu hanya berlaku untuk Battery golongan NiCd yang memiliki memory effect. Di jaman sekarang kendaraan listrik menggunakan SLA, bukan NiCd. Membuat Battery mengalami kehabisan total adalah hal yang menyebabkan aki cepat rusak dan cepat habis masa pakainya. jadi selagi ada kesempatan charging, lakukan saja tanpa harus menunggu kapasitas habis dahulu. Tapi ingat, metode charging harus sesuai dengan poin paling bawah sendiri nanti.

Memakai kendaraan listrik untuk jarak jauh dalam sekali waktu. Mari kita menengok tentang apa itu Hour rate ( HR ). Dimana sebuah aki memiliki masa efektif dihabiskan dari penuh sampai habis itu minimal berapa jam. Selengkapnya tentang apa itu Hour Rate Battery bisa dilihat disini : Arti kode HR pada aki kendaran listrik adalah masa efektif Battery dari Full lalu dipakai hingga habis minimal adalah 20 jam. Jadi kita tidak boleh menghabiskan kapasitas kurang dari 20 jam. Jika dilanggar efeknya apa ?, ya Battery nya cepat rusak.

Melakukan perjalanan jauh dalam satu kali jalan, misal 30-60 km perjalanan. Tentu Battery akan habis hanya dalam 2-4 jam saja. Dan itu adalah perlakukan tidak baik terhadap Battery, Jikalau memang harus sering pergi jarak jauh sekali jalan, gunakanlah golongan battery Lithium yang berani habis dalam 1 jam tanpa rusak. Dan gunakanlah kapasitas besar supaya tidak kehabisan energy di tengah perjalanan, atau bisa pula memilih Battery SLA dengan Hour Rate yang kecil misalnya Battery SLA merek Chilwee 12V 12Ah dengan specifikasi teknis 2HR yang bisa dipakai habis dalam waktu 2 jam tidak terlalu berpengaruh terhadap umur masa efektif Battery secara umum dalam satu masa efektif satu set Battery pada kendaraan listrik.

 

3. Memakai untuk jalan, padahal kapasitas Battery sudah habis.

Battery habis tapi dipaksa untuk jalan, apa bisa ?. Ada bahkan banyak yang melakukan ini. Kendaraan Listrik yang sudah kehabisan Battery hingga jalanya pelan / patah patah dipaksa untuk berjalan, hanya karena atas dasar belum sampai rumah atau tempat tujuan. Ketika kita mengalami hal ini lebih baik sudah saja yang mengendarai kendaraan listrik, segera cari coclokan listrik untuk charging Battery atau call gojek untuk pulang bawa Battery nya dan di charge di rumah. Karena memaksa Battery bekerja ketika kondisi sudah habis adalah perbuatan membunuh Battery yang paling extreem.

 

4. Kendaraan Listrik didiamkan dalam waktu lama dalam kondisi Battery kosong.

Sinkronisasi dari kelanjutan point 3. Battery yang didiamkan dalam waktu lama dan kondisi kosong memang membuat sel sel Battery tidak sehat, hal ini bisa jadi berpotensi poin 3 terjadi, misalnya ketika mau dipakai kendaraan lsitriknya tapi Battery kosong dan tetap dipaksakan untuk jalan. Jadi kesimpulannya sehabis pakai kendaraan listrik, langsung di charger tidak masalah, tidak perlu menunggu dingin dahulu. Charging menunggu dingin hanya berlaku untuk Battery Lithium yang Fast Charging. tips melakukan charging yang harus menunggu Battery dingin hanya berlaku untuk golongan Battery Lithium saja, dan itupun jenis fast charging, untuk jenis Battery SLA tidak berlaku.

 

5. Melakukan charging dalam waktu lama sejak Battery kosong / habis.

Lebih baik pakai sedikit lalu cas sebentar. Jika ada yang mengatakan : Battery kalau belum habis jangan di cas dulu nanti cepat rusak, percayalah itu HOAX untuk kendaraan Listrik. Logikanya adalah seperti ini :

Jika Battery cuma dipakai sebentar maka kapasitas sisanya masih banyak kan ?
Lalu proses charger jika kapasitas Battery masih banyak, kira kira lama tidak proses chargingnya ?, cuma sebentar kan ?, 20 menitan paling sudah pebuh
Proses charger yang sebentar VS proses charger yang lama lebih dingin yang mana ? lebih dingin yang sebentar kan ?, cuma 20 menit, paling lama 40 menit lah tidak akan membuat Battery dan charger kerja keras.
Sekarang bayangkan jika dari habis total yang butuh 5 hingga 6 jam charging, lebih panas mana ?
Lalu menunggu cas kalau 6 jam itu lama tidak ? ujung ujungnya cuma di tinggal tidur dan besok paginya Battery sudah melembung semua. Battery kalau sudah melembung itu artinya rusak total, alias minta ganti baru, jadinya lebih nahalkan ?.
Jadi kesimpulannya disini, jika memang terpaksa melakukan charging dari Battery habis total, sebaiknya dilakukan bertahap, contoh jika Battery penuh dalam waktu 6 jam, maka lakukan charging 2 jam sebanyak 3 kali dalam waktu yang berbeda. Diberikan jeda dulu setiap selang 1-2 jam supaya Battery tetap dingin, dengan melakukan hal ini maka potensi Battery melembung lebih terminimalisir.

Over charging = aki melembung disebahkan karena suhu sel dan cairan electrolit yang panas, sehingga menyebabkan penguapan cairan yang terlalu berlebih membuat jalur katup pada Battery tidak bisa menghandle, jika katup pada aki sudah macet dan rusak maka tekanan uap akan menekan dinding Battery dan terjadilah melembung. Battery yang sudah melembung bisa dikatakan rusak total kondisinya, habis masa pakai dalam seketika, ibarat tangki motor bensin yang sudah bocor dan yang terjadi adalah Battery minta diganti yang baru. Jadi mari kita bijak dalam durasi masa charging, jangan terlalu lama sejak dari kosong dan jangan over charging.

 

6. Charging yang selalu berambisi harus penuh total.

Charging yang berambisi selalu penuh total masih banyak terjadi di masyarakat. Belum mantap dan puas kalau belum penuh total. Ini Adalah hal yang salah juga, mencharging Battery tidak harus berambisi full 100%, cukup kita isi 90 – 95% sudah bagus.

Mengandalkan indikator lampu hijau pada automatic charger juga belum tentu aman, karena hanya charger yang berkualitas bagus saja yang memiliki fitur automatic cut off yang bisa dipercaya dan model charger yang banyak beredar memang tidak sepenuhnya bisa dipercaya fitur automatic cut off lampu hijaunya. Jadi kesimpulanya, apabila kita tidak bisa memperhatikan waktu proses charging maka lebih baik gunakanlah timer setiap kali melakukan charging kendaraan listrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *